kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.825   -44,00   -0,25%
  • IDX 6.149   -23,61   -0,38%
  • KOMPAS100 810   -8,02   -0,98%
  • LQ45 611   -6,19   -1,00%
  • ISSI 212   0,33   0,16%
  • IDX30 345   -3,51   -1,00%
  • IDXHIDIV20 422   -4,67   -1,09%
  • IDX80 92   -1,06   -1,14%
  • IDXV30 113   -0,98   -0,85%
  • IDXQ30 110   -1,38   -1,24%

Pengamat ragukan sikap netral SBY di pilpres


Senin, 02 Juni 2014 / 15:31 WIB
ILUSTRASI. Sejumlah saham dengan kapitalisasi besar turut terkoreksi seiring dengan pelemahan IHSG. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.


Reporter: Gloria Fransisca | Editor: Yudho Winarto

 JAKARTA. Pengamat politik dari Charta Politica, Arya Fernandes meragukan sikap netral dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terlebih SBY merupakan Ketua Umum Partai Demokrat.

"SBY sendiri adalah manusia politik sehingga tidak mungkin sepenuhnya netral," katanya, Senin (2/6).

Arya menjelaskan posisi Partai berlambang mercy cukup diperhitungkan. Meski di pemilhan legislatif (pileg) menempati peringkat ke empat dengan raupan suara 10,19%.

"Kita perlu ingat, Demokrat punya kuasa sangat powerfull. Nah saya kira pergerakan politik Demokrat menjadi sangat penting," katanya.

Asal tahu saja, Partai Demokrat memutuskan untuk mengambil posisi berada di luar dua poros koalisi pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Tapi belakangan, sejumlah kader Demokrat terang-terangan memutuskan untuk mendukung salah satu pasangan.

Politisi Partai Demokrat, Jafar Hafsah mencoba mengklarifikasi adanya signal keberpihakan Partai Demokrat. "Partai Demokrat tak memihak Pak Prabowo atau Pak Jokowi, tetapi anggota kami berhak untuk memihak," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×