kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.978   86,00   0,48%
  • IDX 6.074   -27,71   -0,45%
  • KOMPAS100 792   -4,04   -0,51%
  • LQ45 597   -1,53   -0,26%
  • ISSI 211   -1,02   -0,48%
  • IDX30 338   -0,37   -0,11%
  • IDXHIDIV20 413   0,16   0,04%
  • IDX80 90   -0,42   -0,46%
  • IDXV30 111   0,19   0,17%
  • IDXQ30 108   0,12   0,12%

Musim kering mengancam ketahanan pangan


Senin, 06 Agustus 2012 / 15:00 WIB
ILUSTRASI. PP London Sumatra Indonesia berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,20 triliun pada kuartal I-2021


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan kekeringan yang melanda sejumlah negara menjadi peringatan serius terhadap ketahanan pangan. Pasalnya, kekeringan ini telah mengakibatkan harga pangan melambung.

"Sudah mulai ada peringatan dini dari lembaga internasional bahwa harga pangan secara global bisa mengalami kenaikan," kata SBY dalam pengantar sidang kabinet di Kementerian Pertanian, Senin (6/8).

Belum lama ini, kekeringan yang melanda Amerika Serikat telah membuat perajin tempe dan tahu meradang. Mereka sempat menghentikan produksi. Ini karena harga kedelai yang melambung tinggi.

Karena itu, SBY menekankan jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II untuk bekerja keras meningkatkan ketahanan pangan. Dia menekankan pada kemandirian dan tidak mengandalkan pasokan komoditas pangan dari luar negeri.
"Bukan hanya beras tetapi juga jagung, gula, daging sapi, bahkan kedelai nantinya," jelasnya.

Sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2010-2014, setidaknya ada lima komoditas pokok yang harus diperkuat adalah padi beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Pemerintah menargetkan surplus beras 10 juta ton pada 2014.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×