kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Ini harapan pelaku usaha soal perkembangan perjanjian dagang


Selasa, 31 Agustus 2021 / 22:00 WIB


Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi virus corona (Covid-19) ikut menghambat proses perundingan dalam rencana perjanjian dagang. Pelaku usaha mengapresiasi upaya pemerintah untuk tetap mendorong penyelesaian sejumlah perjanjian dagang.

Diharapkan perjanjian dagang yang dapat mendorong kepentingan perdagangan dan investasi dapat diselesaikan.

"Kami sangat berharap kita terus mengupayakan berbagai cara agar progres perundingan yang strategis untuk perluasan kepentingan dagang dan investasi Indonesia seperti EU cepa bisa diselesaikan," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani saat dihubungi Kontan.co.id,  Selasa (31/8).

Sebelumnya Kementerian Perdagangan menyebut perundingan Kerja Sama Ekonomi Komperhensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) telah mencapai progres yang signifikan. Meski begitu, perjanjian tersebut tak termasuk pada perjanjian yang dapat rampung tahun ini.

Baca Juga: Pemerintah targetkan bisa merampungkan 2 perjanjian dagang pada tahun ini

Pemerintah mendorong dua perjanjian yang dapat selesai tahun ini. Antara lain Indonesia-Tunisia Preferential Tread Agreement (PTA) dam Indonesia Bangladesh PTA.

Kedua perjanjian akan memberikan akses lebih bega produk Indonesia. Namun, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menyebut Bangladesh lebih memiliki potensi.

"Karena pertama dekat jaraknya dan ada produk-produk yang komplementer," ungkap Benny.

Sebagai informasi, pada periode Januari - Agustus 2021, Indonesia mengalami surplus neraca dagang sebesar US$ 14,42 miliar. Hal itu terdiri dari ekspor sebesar US$ 120,57 miliar dan impor US$ 106,15 miliar.

Selanjutnya: Resmikan Bendungan Kuningan, Jokowi yakin bisa tingkatkan produksi pertanian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×