kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Inggris siap investasi di sektor infrastruktur, energi dan manufaktur


Rabu, 06 April 2011 / 17:22 WIB
ILUSTRASI. Pekerjaan konstruksi pembangunan Kereta Automated People Mover System, (Wijaya Karya, WIKA, Wika Beton) di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang (Dede Suprayitno/Kontan)


Reporter: Bambang Rakhmanto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pemerintah Inggris berniat meningkatkan investasi dan perdagangan dengan Indonesia. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, Inggris ingin menanamkan modal di sektor energi, infrastruktur dan manufaktur.

Untuk mewujudkan keinginan itu, Hatta mengatakan, Inggris berharap ada pembenahan birokrasi supaya tercipta kepastian dan kemudahan berusaha di Indonesia. Menurutnya, Inggris ingin ada perbaikan beberapa regulasi yang dirasakan masih menghambat dan mengganggu regulasi. Sayang, Hatta tidak memaparkan aturan yang dianggap menghambat tersebut.

Bukan hanya itu. Hatta bilang, Inggris juga berniat meningkatkan kapasitas pengusaha dan pengusaha kecil Indonesia dalam berwirausaha. Salah satunya dengan mendirikan British Standard Institute. "Inggris sungguh ingin meningkatkan capacity building terutama meningkatkan kemampuan pengusaha kita," kata Hatta usai bertemu utusan khusus investasi dan perdagangan Inggris Pangeran Andrew, Rabu (6/4).

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, British Standard Institute bertujuan memastikan produk Indonesia yang dipasarkan ke Inggris memenuhi standarisasi Eropa. "Inggris merupakan investor besar, juga perdagangan dengan mereka naik terus. Kalau mau masuk ke Eropa pemenuhan standar itu penting," ujar Elka.

Mari memaparkan, pembentukan British Standard Institute ini sudah dirintis sejak tiga tahun lalu. Dengan adanya lembaga ini, dia yakin produk Indonesia akan lebih mudah memasuki pasar Eropa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×