kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Imbal dagang pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 masih terus dibahas


Jumat, 13 September 2019 / 16:22 WIB
Imbal dagang pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 masih terus dibahas
ILUSTRASI. Pesawat tempur Sukhoi TNI AU

Reporter: Handoyo | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan peningkatan hubungan perdagangan bilateral dengan meminimalisasi hambatan perdagangan dan investasi dengan negara mitra. Dengan meminimalisasi hambatan, maka kemudahan akses pasar akan semakin meningkat.

“Kita setuju menaikkan hubungan bilateral perdagangan dan investasi dengan Rusia. Indonesia dan Rusia sepakat untuk mengidentifikasi hal-hal yang selama ini menghambat kerja sama kedua negara,” ujar Mendag dalam siaran persnya, Jumat (13/9).

Mendag menerangkan, pihak Rusia meminta dukungan Kemendag dalam proyek kereta api di Kalimantan. Terkait hal tersebut, Mendag berkomitmen akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait di Indonesia.

Baca Juga: Pesawat Rusia melakukan pendaratan darurat dekat Moskow pasca serangan burung

Selain itu, Rusia juga menyatakan minatnya pada potensi investasi pembangunan infrastruktur pemindahan ibu kota Indonesia.

Sementara itu, pihak Indonesia menaruh perhatian pada keputusan Parlemen Rusia yang menaikkan pajak minyak sawit, dari 10% menjadi 20%. Rusia menekankan, kenaikan pajak minyak sawit tersebut adalah tindakan penyesuaian tarif dan bukan proteksi. 

Rusia tidak memproduksi minyak sawit sehingga tetap membutuhkan asupan minyak sawit Indonesia. Untuk itu, Rusia menyatakan akan menghitung dampak kenaikan pajak tersebut pada serapan konsumsi Rusia.

Baca Juga: Seragam pramugari paling menawan dari seluruh dunia

Kedua Menteri juga sepakat menindaklanjuti rencana imbal dagang pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 bagi Indonesia. Selain itu Indonesia juga meminta Rusia selaku negara dengan ekonomi terbesar di Eurasian Economic Union untuk mendukung insiatif pembentukan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Eurasian Economic Union.

“Potensi perdagangan kita dengan Rusia cukup besar, untuk itu kami mendorong agar hambatan perdagangan kedua negara dapat diatasi dan hubungan ekonomi dapat ditingkatkan melalui rencana pembentukan perjanjian perdagangan dengan Eurasian Economic Union, mengingat Rusia adalah bagian dari Eurasian Economic Union dan merupakan ekonomi terbesar di situ.” ujar Mendag.

Selain memberikan manfaat peningkatan dagang dengan Rusia, kerja sama dengan Eurasian Economic Union juga akan memberikan manfaat perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota lainnya, seperti Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgizstan.




TERBARU

Close [X]
×