Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan mencatatkan inflasi yang lebih rendah pada Oktober 2026. Hal ini terjadi seiring dengan meredanya tekanan inflasi inti dan relatif terbatasnya kenaikan harga pangan. Penurunan harga emas serta koreksi sejumlah komoditas pangan menjadi faktor yang menahan laju inflasi pada bulan lalu.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan inflasi Oktober 2026 mencapai 3,14% secara tahunan atau year on year (YoY). Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi September 2026 yang tercatat sebesar 3,28% YoY.
Secara bulanan, inflasi Oktober diperkirakan sebesar 0,14% month to month (MtM), melambat dari realisasi September sebesar 0,30% MtM.
Baca Juga: UU PFII Terbit, Tak Semua Investor Bisa Dapat Insentif Pajak
David menjelaskan, perlambatan inflasi terutama dipengaruhi oleh inflasi inti yang diperkirakan relatif stagnan. BCA memproyeksikan inflasi inti pada Oktober 2026 sebesar 2,47% YoY dan 0,04% MtM.
Salah satu faktor yang menekan inflasi inti adalah perkembangan harga emas. Harga emas yang terus mengalami penurunan, bahkan hanya tumbuh pada level satu digit rendah (low single digit) pada Oktober, turut menahan laju inflasi inti.
“Inflasi akan sedikit melambat, diperkirakan karena inflasi inti yang stagnan. Harga emas yang terus turun bahkan hanya tumbuh low single digit di Oktober mendorong penurunan inflasi inti,” tutur David kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Di luar itu, tekanan inflasi dari kelompok pangan juga diperkirakan relatif terbatas. Sejumlah komoditas mengalami penurunan harga, termasuk daging ayam, sehingga membantu meredam kenaikan harga pangan secara keseluruhan.
Baca Juga: Resmi Diterbitkan! UU PFII Atur 73 Pasal Mulai Pajak Hingga Pengadilan Khusus
Meski demikian, tidak seluruh komoditas pangan mengalami penurunan harga. David mencatat harga cabai justru mengalami kenaikan signifikan pada Oktober 2026.
Namun, tekanan dari kenaikan harga cabai tersebut diperkirakan belum cukup besar untuk mengerek inflasi secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














