kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45995,96   -12,32   -1.22%
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Epidemiolog sebut ada potensi lonjakan kasus Covid-19 saat Nataru, ini sarannya


Sabtu, 16 Oktober 2021 / 09:05 WIB
Epidemiolog sebut ada potensi lonjakan kasus Covid-19 saat Nataru, ini sarannya


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berkaca dari pengalaman lonjakan sebelumnya, usai adanya libur panjang selalu diikuti dengan naiknya kasus konfirmasi Covid-19. Pasca gelombang kedua yang terjadi pada Juli lalu, Indonesia perlu berhati-hati pada potensi gelombang ketiga saat akhir tahun nanti.

Epidemiolog dan Ahli Kesehatan Lingkungan Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut bahwa ada potensi adanya lonjakan pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) nanti. Namun lonjakan nantinya diperkirakan sebesar gelombang sebelumnya terutama yang terjadi pada Juli lalu.

Lonjakan nantinya akan terjadi lantaran cakupan vaksinasi yang belum menyentuh 50% lebih dan juga mobilitas yang meningkat. Dalam artian jika mobilitas saat Nataru meningkat hingga 20% lebih dan cakupan vaksinasi masih di bawah 50% maka akan memunculkan potensi lonjakan.

Baca Juga: Sanksi tegas menanti para pelanggar karantina, ini kata Satgas

"Faktor potensi gelombang ke-3 atau kenaikan kasus saat Nataru, kalau ada peningkatan sampai 25% mobilitas atau lebih 20% lebih itu akan berkontribusi dan kombinasi vaksinasi yang belum divaksin 60%. Kemudian juga deteksi atau ada pelonggaran-pelonggaran yang tidak mengacu pada indikator yang kuat," jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (15/10).

Melihat adanya potensi lonjakan kembali, maka Dicky menekankan perlunya penguatan testing dan tracing terutama di wilayah yang dinilai terjadi potensi kerumunan saat liburan Nataru. Kemudian pelonggaran PPKM leveling juga harus merujuk data yang kuat mengikuti indikator yang telah ditentukan. Dicky menegaskan pelonggaran PPKM harus dilakukan secara hati-hati.

"Tidak diketatkan [PPKM] nggak masalah. Tapi protokolnya ingat harus dipastikan konsisten. Ya ini yang jadi masalah mulai dari testing tracing di lokasi-lokasi destinasi wisata atau yang potensi kerumunan itu harus ketat dan jangan sampai 100% WFH," tegasnya.

Komitmen dan konsistensi baik pelaksanaan protokol kesehatan, testing dan tracing maupun pelonggaran PPKM harus dijaga sesuai dengan indikator dari PPKM leveling itu sendiri.

Baca Juga: Pemerintah antisipasi peningkatan mobilitas periode libur panjang Nataru

Sementara itu Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamani menyebut, pemerintah perlu membuat regulasi yang ketat untuk mengantisipasi lonjakan saat libur panjang.

"Mungkin perlu dibuat regulasi ketat oleh pemerintah pada masa libur panjang. Ini mengantisipasi kemungkinan risiko meningkatnya kasus," kata Laura.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×