kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Di pasar, predikat konsumen masih raja


Kamis, 04 Juni 2015 / 10:05 WIB
ILUSTRASI. Kamar tidur pada show unit perumahan cluster Baroni di Summarecon Serpong.


Reporter: Andri Indradie, Merlina M. Barbara | Editor: Tri Adi

Meski sudah menyantap roti, kalau belum makan nasi, rasanya, kok, belum makan. Pameo ini sudah jamak bagi penduduk Indonesia. Wajar, karena nasi merupakan makanan pokok alias primer. “Dan orang Indonesia susah menggantikan nasi dengan bahan makanan lainnya,” cetus Purwiyatno Hariyadi, dosen Institut Pertanian Bogor.

Itulah sebabnya, isu seputar nasi atau beras pun menjadi sangat sensitif. Begitu muncul kabar ada beras yang diduga terbuat dari plastik dari Dewi Septiani yang membeli beras di Pasar Tanah Merah, Kompleks Mutiara Gading Timur, Bekasi, Jawa Barat, sontak masyarakat bereaksi.

Berbagai reaksi muncul begitu cepat. Mulai dari penurunan omzet para pedagang di Pasar Tanah Merah hingga kabar tentang keluarga Naiman (55) di Depok yang mengaku keracunan setelah makan beras terbuat dari plastik.

Pedagang beras seperti Dwi (46) di Pasar Tanah Merah mengaku, sejak kabar beras palsu beredar, penjualannya drop 30%. Kalau biasanya ia mampu menjual beras hampir satu ton, sejak gempar isu itu, ia cuma bisa menjual sekitar 700 kilogram. “Bahkan, ada pedagang yang mengeluhkan sudah turun sampai 50%,” ujar Dwi Antono, Direktur Utama
PT Food Station Tjipinang Jaya, pengelola pasar induk beras Cipinang, Jakarta.

Namun, ternyata tak semua penjualan beras para pedagang melorot. Sebut saja Tuti (46), pemilik Toko Beras Barokah di Pasar Mampang Prapatan, Jakarta. Omzetnya relatif stabil di kisaran Rp 5 jutaan. Dia bilang, ini karena para pelanggan sudah sepenuhnya percaya kepadanya. “Saya juga tak mau menerima barang-barang yang asalnya usulnya tidak jelas. Kita sebagai pedagang harus bisa membedakan dengan teliti, mana barang asli dan mana yang tidak,” ujar Tuti.

Selama berbisnis beras, Tuti selalu membeli dagangan dari Pasar Induk Beras Cipinang. Sebagian kecil pasokan berasnya ia peroleh dari para petani langsung di daerah Jawa Barat.

Begitu juga dengan Midi (42), pedagang beras di Pasar Jembatan Dua, Tambora, Jakarta. Berbeda dengan Tuti, Midi masih pedagang beras kelas kecil. Pelanggannya kebanyakan ibu-ibu rumahtangga. Per hari, beras dagangannya biasa terjual sekitar 10 liter. Widi mengatakan, isu beras palsu tak berdampak apa pun terhadap penjualan bisnisnya. “Hanya, banyak sekali yang bertanya. Tapi jujur saja, kalau ditanya, saya bingung mau menjawab apa,” tutur Widi.


Usut tuntas
Entah keluarga Naiman betul-betul sakit akibat keracunan beras dari plastik atau tidak, faktanya memang ada pembuat mesin beras buatan. Anda bisa mudah menemukannya di dunia maya berikut contoh video pengoperasiannya di kanal YouTube. Di sana, Anda akan memperoleh berbagai informasi sekaligus tawaran marketing mesin-mesin pembuat beras buatan, seperti mesin beras buatan dari India atau China.

Kasus beras plastik pun juga bukan hal baru di China, meskipun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan ini kasus pertama di dunia. Kasus beras plastik pernah menghebohkan China empat tahun silam. The Hong Kong Weekly menulis, beras bermerek “Wuchang Rice” dipasarkan di Taiyuan, Provinsi Shaanxi. Beras ini terbuat dari bahan campuran biji plastik dan kentang.

Di Indonesia, meskipun pemerintah sudah mengumumkan sampel beras yang ditelitinya tak mengandung plasik, Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, meminta pemerintah tidak berhenti pada pengumuman “sampel beras negatif bahan plastik” saja. Tulus bilang, pemerintah harus mengusut tuntas kehebohan kasus keamanan pangan ini sehingga menemukan siapa yang betul-betul bertanggungjawab.

Ngadiran, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, menambahkan, ia khawatir dengan dampak jangka panjang atas isu ini. Pasar tradisional makin lama akan makin ditinggalkan pembeli. Apalagi, lanjut Ngadiran, pasar modern punya kontrol pasokan makanan yang lebih baik ketimbang pasar tradisional.

Dia bilang, beras ini isu baru akhir-akhir ini saja. Sebelumnya, masih banyak kasus-kasus yang sebenarnya juga tak kalah besar pengaruhnya ke pasar tradisional, bahkan bisnis usaha kecil menengah (UKM). Ada kehebohan tahu yang mengandung boraks. Lalu ada tempe, siomay, usus ayam, hingga bakso atau ikan asin berformalin. “Ini membuktikan lemahnya pengawasan dari pemerintah dan yang terkena dampaknya, ya, pasar tradisional,” tegas Ngadiran.

Dan, jangan lupa, di produk beras, sebenarnya masih banyak isu-isu yang memojokkan pasar tradisional. Sebut saja pemutihan beras, pencampuran dengan bahan pewangi berbahaya, dan sebagai. Ujung-ujungnya, ini tentu merugikan pasar tradisional dan pedagang beras eceran, baik di pasar tradisional atau di warung-warung.

Sjambiri Lioe, Direktur Keuangan PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk, pun mengaku, setelah kehebohan beras plastik, orang pasti jadi berpikir, “karena beras eceran kurang terjamin, saya lebih baik membeli beras kemasan saja”. Tapi, buru-buru Sjambiri menambahkan, efeknya belum bisa dilihat sampai ke berapa nilai penjualan secara bisnis. “Karena cuma satu-dua hari. Bisnis naik atau tidak, perlu dilihat minimal tiga bulan,” ujarnya.

Baik Ngadiran maupun Tulus mendesak pemerintah agar membenahi pengawasan. Contoh saja, pengelola pasar seharusnya juga punya peran penting dalam mengawasi arus barang-barang dagangan di pasar. “Karena itulah kualitas pengelola pasar juga harus ditingkatkan dan ditindak tegas jika terjadi kecolongan seperti waktu lalu itu,” tutur Ngadiran.

Juga, kata Ngadiran, sudah menjadi kewajiban pemerintah mengedukasi para pedagang sehingga makin menguasai produk-produk yang dijualnya. Sementara bagi Tulus, perhatian ke konsumen sebagai pengguna akhir yang memberi kepercayaan penuh ke penjual juga tak kalah penting. Ingat, konsumen sampai sekarang masih raja.

Di samping setiap produk harus mempunyai informasi lengkap tentang produk, pemerintah sebaiknya juga punya standar jelas dalam menentukan kualitas produk. Contoh saja, Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sekarang ini, bahkan pemerintah tidak punya data tentang merek-merek beras yang ada di pasar. Pemerintah juga tak memiliki data tentang produsen-produsen beras. Bahkan, imbuh Sjambiri, ia masih menjumpai produk-produk beras kemasan yang diimpor utuh, seperti beras Jepang dengan label bahasa Jepang. “Padahal, seharusnya tidak boleh impor,” tutur
Sjambiri.

Namun begitu, kata Purwiyatno, konsumen juga sepatutnya lebih bersikap cerdas dan hati-hati. Misalnya saja, membaca informasi yang tertera pada produk. Kebiasaan membanding-bandingkan produk dan merek juga penting sebagai pengetahuan. Masih banyak konsumen yang kadang-kadang kurang cermat terhadap produk-produk makanan atau minuman.    

Teliti memilah beras asli dan sintetis
Gempar isu beras palsu mengandung plastik boleh saja membuat kita makin waspada, meski tetap tenang menyikapinya.  Ketua Asosiasi Pengusaha Pasar Ngadiran punya tip bagaimana memilih beras berkualitas dan mengenali keasliannya.

Pertama, beras asli itu ujungnya pasti runcing. Kalaupun diraba, masih ada tanda dan permukaannya tidak rata. Beras asli punya guratan dan bisa digigit atau dipatahin dengan mudah.

Kedua, ketika beras dicuci dan direndam, beras asli pasti akan terendam seutuhnya sampai dasar. Sementara jika bukan beras, pasti agak mengembang karena beratnya berbeda.

Ketiga, cobalah dibakar pakai korek api. Jika beras asli, maka akan gosong. Tetapi jika beras mengandung plastik, pasti akan meleleh dan menempel satu sama lain.

Keempat, ketika dipegang beras pasti masih ada dedaknya. Sedangkan beras sintetis akan lebih licin dan warnanya lebih cerah.o


Laporan Utama
MIngguan Kontan No. 36-XIX, 2015

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×