Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Indonesia masih menghadapi tantangan untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Indonesia telah hampir 30 tahun terjebak dalam kondisi tersebut.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan pendapatan per kapita Indonesia saat ini masih berada di kisaran US$ 5.000. Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan negara tetangga yang telah mencatatkan pendapatan per kapita di atas US$ 10.000.
"Kita ini sudah hampir 30 tahun terjebak di dalam middle income trap. Pendapatan per kapita kita ya sekitar US$ 5.000, sementara negara tetangga kita sudah di atas US$ 10.000," ujar Rachmat dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, Senin (26/10/2026).
Baca Juga: Danantara Ungkap 52% BUMN Merugi, Total Kerugian Rp 20 Triliun Per Tahun
Menurutnya, salah satu upaya untuk mengatasi persoalan tersebut adalah mendorong inovasi dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Dia menyoroti konsep Economic Complexity Index yang dinilai relevan dalam menghadapi perubahan ekonomi global.
Rachmat menjelaskan inovasi tidak hanya dihasilkan oleh ilmuwan atau pusat penelitian (research center), tetapi juga dapat dikembangkan oleh lembaga lain, termasuk Bank Indonesia (BI).
Dia mencontohkan inovasi sistem pembayaran digital yang dikembangkan BI yakni QRIS. Menurutnya, sistem tersebut mampu menjangkau pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) hingga masyarakat dari berbagai lapisan, dengan jumlah pengguna mencapai 70 juta.
"Bank Indonesia menghasilkan sistem pembayaran dengan QRIS. Sistem pembayaran digital yang menjangkau UKM, menjangkau masyarakat yang paling rendah dan paling bawah sampai paling atas. Dengan mencapai jangkauan 70 juta pengguna, itu luar biasa," katanya.
Rachmat menilai inovasi semacam itu perlu diperluas ke berbagai kementerian dan lembaga.
Dengan demikian, inovasi dan teknologi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas serta menjadi fondasi untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam 20 tahun mendatang.
Baca Juga: Danantara Mau Tutup 750 BUMN Tahun Ini, Bidik Peningkatan Laba Hingga 360 Triliun
Dia juga menekankan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.
Pemerintah, menurutnya, perlu mendorong pertumbuhan yang turut dirasakan kelas menengah dan masyarakat berpendapatan rendah.
Rachmat mengingatkan bahwa peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat lapisan bawah memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu disertai upaya memperluas kesempatan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas.
"Kita ingin tumbuh bukan hanya di kelompok masyarakat teratas. Kita ingin tumbuh justru di masyarakat kelas menengah. Dan kita justru ingin tumbuh di masyarakat yang paling bawah," katanya.
Selain inovasi, Rachmat menyoroti pentingnya pengembangan industri yang mampu menciptakan nilai tambah lebih besar di dalam negeri. Salah satu sektor yang disinggungnya adalah industri semikonduktor.
Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi lokasi perakitan produk semikonduktor. Indonesia perlu membangun ekosistem pengembangan industri tersebut agar kemampuan dan aktivitas ekonominya dapat berkembang lebih luas.
Baca Juga: Gubernur BI Dorong Industrialisasi Diperkuat dan Hilirisasi Diperluas
Rachmat juga mendorong kerja sama dengan negara-negara Asia, termasuk India dan Singapura, untuk membangun ekosistem industri serta mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dia menegaskan negara-negara di Asia tidak harus memandang satu sama lain sebagai pesaing, melainkan dapat bekerja sama untuk menciptakan pertumbuhan bersama.
"Negara kita cukup besar, tetangga kita cukup kuat, mari kita bekerja bersama. Tumbuh bersama untuk bebas dari middle income trap," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














