kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.564   166,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Akademisi Trisakti: Industri HPTL butuh insentif


Jumat, 05 Februari 2021 / 08:00 WIB
Akademisi Trisakti: Industri HPTL butuh insentif


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala pusat studi konstitusi Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah mengimbau pemerintah untuk memberi insentif fiskal maupun non fiskal bagi para pemain industri hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL).

Bahkan, Trubus meminta agar kenaikan cukai HPTL ini tidak terlalu tinggi. Karena, bagaimana pun juga, produk HPTL merupakan bagian dari alternatif konsumen yang bisa menyumbang pada penerimaan cukai secara cukup signifikan.

“Kalau rokok tembakau cukainya naik hanya sekitar 12%. Masa ini naiknya kok 57%? Jadi kami pikir perlu dibuat aturan terpisah juga, terkait pengurangan biaya, perlindungan konsumen, insentif fiskal, agar industri ini berkembang,” kata Trubus Kamis (4/2) dalam web seminar.

Baca Juga: Ada wacana perubahan struktur tarif cukai HPTL menjadi seperti rokok konvensional

Trubus juga mengimbau agar pemerintah lebih memperhatikan beberapa regulasi yang tidak menyulitkan produk alternatif ini, seperti terkait mekanisme prosedur, distribusi barang, dan harga jual eceran (HJE).

Karena bagaimana pun, industri HPTL ini memberikan kontribusi yang cukup kepada penerimaan negara.

Asal tahu saja, pengenaan cukai HPTL memang baru dilangsungkan pada pertengahan tahun 2018. Hingga akhir tahun 2020, penerimaan tercatat Rp 99 miliar. Kemudian, pada tahun 2019 penerimaan cukai HPTL meroket 331,1% menjadi Rp 427,01 miliar.

Dan pada tahun 2020 kembali naik 59,2% menjadi Rp 689 miliar, dengan penerimaan cukai yang paling dominan ada pada ekstrak dan essence tembakau (EET)-cair sebesar Rp 604,9 miliar atau memegang porsi 88,9%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×