: WIB    —   
indikator  I  

Industri lifestyle penyumbang PDB termudah

Industri lifestyle penyumbang PDB termudah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia kaya akan komoditas yang berhubungan dengan industri gaya hidup atawa lifestyle. Namun belum dikembangkan secara serius. Menurut Presiden Joko Widodo, Indonesia harus mengambil peluang tersebut.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, industri lifestyle yang bersifat padat karya belakangan ini sangat berkembang.

“Investasi di bidang pariwisata itu 35% sampai 40% per tahun. Sementara invetasi secara nasional itu naiknya 12% sampai 14% per tahun. Sudah sangat di atas itu investasi pariwisata,” katanya ditemui di acara Trade, Tourism, Investment Seminar di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis (12/10).

Meski masih kecil, menurut Tom, apabila pertumbuhannya terus baik maka akan jadi sektor yang besar kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi domestik.

“Lifestyle industry sangat padat karya, dari pekerja kafe, restoran, staf dapur sampai pariwisata. Itu kan jasa semua. Ditambah lagi, kita diuntungkan dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik di negara seperti China, India, Afrika. Tinggal bagaimana kita menggarapnya,” jelasnya.

Hal ini juga didukung dengan lebih menyatunya digital dan gaya hidup itu sendiri. Produk dan jasa lifestyle lebih mudah untuk go internasional. Industri ini juga cepat dirasakan omzetnya.

“Industri lifestyle itu cepat. Bikin kafe bisa makan waktu hanya enam bulan. Hotel dua tahun. Sementara pabrik tiga hingga lima tahun sehingga butuh waktu. Namun, jangka panjang itu tetap penting, seperti industri otomotif dan manufaktur tetap menjanjikan,” kata dia.

Ketua Pokja Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar Hiramsyah Thaib mengatakan, sektor pariwisata yang masih terkait dengan industri lifestyle tersebut misalnya, merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), Devisa dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah.

“20 tahun terakhir Indonesia tergantung dengan komoditas tapi empat tahun lalu sektor pariwisata berada di posisi keempat sebagai penyumbang penerimaan Negara. Tahun lalu menjadi menjadi penghasil devisa kedua di bawah CPO," ujar dia.


Reporter Ghina Ghaliya Quddus
Editor Yudho Winarto

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]