Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi jika terjadi penurunan daya beli masyarakat dalam kurun waktu tertentu sebagai imbas penghentian sejumlah bantuan sosial.
Rendy mengatakan, saat ini memang Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret mulai membaik dibanding bulan sebelumnya. Kemudian data impor yang mengalami pertumbuhan dan terdapat kecenderungan kasus positif covid-19 harian mengalami penurunan. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi aktivitas perekonomian kembali bergeliat.
“Tetapi kalau kita melihat data lain seperti inflasi inti itu juga masih relatif rendah, ini yang saya kira perlu diantisipasi dan diwaspadai juga karena inflasi inti ini menggambarkan juga permintaan barang dan jasa di masyarakat. Karena ketika dia relatif rendah ini yang bisa menjadi semacam catatan juga,” kata Rendy saat dihubungi, Minggu (4/4).
Baca Juga: Ini kata ekonom soal keberlanjutan bansos tunai
Rendy menilai, langkah pemerintah menghentikan sejumlah bantuan sosial karena ingin menjaga target fiskal yang telah ditetapkan. Meski begitu, Ia meminta pemerintah membuat kebijakan yang fleksibel terkait pemberian bantuan sosial.
“Saya melihatnya memang sudah ada perbaikan daya beli untuk kelompok masyarakat menengah kebawah. Tapi ketika nanti misalnya ada data – data yang diklaim pemerintah sudah menunjukkan daya beli itu memburuk misalnya di kuartal ketiga, pemerintah harus mengubah lagi kebijakannnya,” tutur Rendy.
Seperti diketahui, sejumlah bantuan sosial seperti bantuan subsidi upah (BSU) dan bantuan sosial tunai (BST) Kementerian Sosial dihentikan. Hal ini terkait anggaran dan situasi pendemi yang dinilai sudah bergerak ke skala mikro.
Selanjutnya: Dimulai April, ini jadwal distribusi DKI Jakarta 2021 bagi peserta baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













