: WIB    —   
indikator  I  

World Bank: Fundamental RI kuat hadapi Fed Rate

World Bank: Fundamental RI kuat hadapi Fed Rate

JAKARTA. The Federal Reserve (The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuannya (Fed Rate), hari ini (15/7) untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir. Langkah ini menandakan kepercayaan The Fed pada pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan penguatan pasar kerja.

Fed Rate pekan ini naik 0,25% seperti kenaikan sebelumnya, yakni dari target 1% menjadi 1,25%. Dan diperkirakan akan ada satu lagi kenaikan Fed Rate di tahun ini.

Bank Dunia menilai kenaikan fed rate kali ini tak akan berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia. Posisi Indonesia sebagai emerging market dinilai masih aman dalam range kenaikan ini.

"Saya melihat fundamental ekonomi Indonesia belakangan ini berkembang positif, terus mengalami perbaikan dan cukup menggembirakan," kata Ndiame Diop, World Bank Practice Manager for Macroeconomics and Fiscal Management in South East Asia and the Pacific.

Ia menjelaskan bahwa dilihat dari sisi makro ekonomi, kekuatan ekonomi Indonesia di tahun 2017 juga ditopang oleh dukungan kondisi global dan perkembangan fundamental ekonomi domestik. Pertumbuhan GDP Indonesia diperkirakan meningkat dari 5,2% tahun ini menjadi 5,3% di tahun 2018, mengacu pada World Bank’s June 2017 Indonesia Economic Quarterly.

World Bank Country Director for Indonesia, Rodrigo Chaves berpendapat bahwa sampai sejauh ini kondisi fundamental Indonesia masih mampu bertahan dari tekanan kenaikan suku bunga The Fed. Naiknya rating layak investasi dari S&P secara signifikan memberikan peluang bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan manajemen fiskal dan kredibilitas.

"Indonesia harus terus membuat kemajuan, terutama dalam reformasi struktural. Upaya terus-menerus penting dilakukan, untuk memperluas potensi ekonomi. Sehingga, ketergantungan ekonomi Indonesia pada komoditas dapat berkurang," terang Rodrigo di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (15/6).

Bank Dunia turut memproyeksikan beberapa risiko yang harus diantisipasi Indonesia, selain naiknya fed rate. Rodrigo memaparkan sejumlah potensi risiko tersebut, antara lain ketidakpastian kebijakan global, ancaman meningkatnya proteksionisme internasional, penurunan substansial terhadap pemulihan perdagangan global baru-baru ini.

"Risiko geopolitik di kawasan Asia maupun di seluruh dunia serta kondisi politik dalam negeri juga cukup besar pengaruhnya terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia," tuturnya.

Sejalan dengan siklus pengetatan moneter oleh The Fed berpotensi berlanjut.

Di samping itu tingkat suku bunga The Fed yang tak terduga, ditakutkan dapat memicu gejolak di pasar keuangan dan pasar modal global. Maka, kondisi tersebut dapat memicu keluarnya arus modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Arus keluar tersebut dapat menyebabkan ketatnya kondisi keuangan dalam negeri dan mendorong gejolak nilai rupiah, sehingga dapat menurunkan tingkat konsumsi dan investasi swasta dalam negeri," pungkas Rodrigo.


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Hendra Gunawan

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x