: WIB    —   
indikator  I  

Perlambatan konsumsi masih terjadi hingga Q4

Perlambatan konsumsi masih terjadi hingga Q4

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Institute National Development and Financial (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksi penjualan ritel di kuartal ketiga tahun ini turun dibanding kuartal sebelumnya. Bahkan, ia juga memproyeksi penurunan itu akan berlanjut hingga kuartal keempat 2017.

Bhima menjelaskan, di kuartal ketiga, permintaan menurun sejalan dengan telah lewatnya puncak permintaan, yaitu di kuartal kedua lalu. Selain itu, konsumsi masyarakat kelas menengah atas dan kelas bawah cenderung berbeda.

Kelas menengah atas lanjut dia, menahan belanja, menyimpan uang di bank, dan membeli aset aman seperti emas meski daya beli masih cukup kuat.

Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan pajak dan ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri. "Bagi kelompok ini setelah 2019 baru mulai belanja lagi," kata Bhima kepada Kontan.co.id, Senin (9/10).

Sementara untuk kelompok menengah bawah yang mengurangi belanja diperkirakan Bhima karena penurunan pendapatan. "Misalnya upah riil buruh tani dalam 3 tahun terakhir turun 4%. Dan daya beli kelas bawah juga berkaitan dengan penyesuaian subsidi listrik 900 VA," tambahnya.

Bhima melanjutkan, data pusat perbelanjaan juga menunjukkan bahwa mall yang menjual barang sekunder seperti elektronik dan peralatan rumah tangga menurun. Sementara mall yang lebih banyak menjual makanan dan minuman meningkat.

Artinya, masyarakat berbelanja untuk sekadar makan dan minum. Sementara pembelian barang elektronik dikurangi.

Ia mengakui adanya perubahan pola belanja melalui e-commerce. Namun, porsinya masih 1% dari total ritel sehingga tidak signifikan jika dikatakan adanya perpindahan pola belanja.

"Penjualan ritel di kuartal keempat berpotensi melambat kalau dibanding tahun lalu. Cuma kalau dibanding kuartal ketiga pasti ada peningkatan wajar," kata Bhima.

Dengan kondisi tersebut Bhima memperkirakan, ekonomi kuartal ketiga dan keempat tahun ini lebih didorong oleh pengeluaran pemerintah dan ekspor. Sementara investasi belum sepenuhnya bisa diandalkan.


Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Yudho Winarto

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]