: WIB    --   
indikator  I  

Neraca pembayaran Indonesia defisit US$ 2,8 miliar

JAKARTA. Seperti perkiraan sebelumnya, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2012 mencatatkan defisit yang lebih besar ketimbang kuartal I 2012. Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit NPI pada kuartal II 2012 sebesar US$ 2,8 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo mengatakan kuatnya permintaan domestik di tengah pelemahan ekonomi global berimbas pada kinerja eksternal ekonomi Indonesia. Buktinya, defisit transaksi berjalan pada kuartal II melebar menjadi US$ 6,9 miliar (3,1% dari PDB). Angka ini lebih tinggi ketimbang defisit pada kuartal I 2012 yang sebesar US$ 3,2 miliar.

Sebenarnya, pada kuartal II 2012 terjadi kenaikan surplus neraca modal dan finansial yang cukup tajam. BI mencatat surplus neraca modal dan finansial pada kuartal II 2012 sebesar US$ 5,5 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat ketimbang kuartal I 2012 yang sebesar US$ 2,5 miliar. “Tapi secara keseluruhan, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan, sehingga pada kuartal II 2012 NPI mengalami defisit US$ 2,8 miliar," kata Dody seperti yang dikutip dari siaran persnya Jumat (10/8).

Dody menuturkan, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2012 dipicu oleh surplus neraca perdagangan yang terus menciut sehingga tak bisa mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar. Seperti diketahui, surplus neraca barang pada kuartal II 2012 hanya sebesar US$ 1,56 miliar. Sementara defisit neraca jasa mencapai US$ 2,88 miliar.

Penurunan surplus neraca barang dipicu oleh melorotnya kinerja ekspor akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global. Di sisi lain, Dody bilang laju impor barang modal dan bahan baku masih kuat. Di sisi neraca jasa, kenaikan defisit disebabkan karena naiknya pembayaran jasa transportasi barang impor dan peningkatan jumlah warga negara Indonesia yang pergi ke luar negeri.

Sementara itu, neraca pendapatan juga mencatatkan defisit US$ 6,4 miliar. "Ini terjadi karena laba dan bunga yang diperoleh investor asing atas investasi mereka di dalam negeri meningkat seiring dengan nilai investasinya yang terus bertambah," ungkap Dody.

Di sisi lain, tingginya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia membuat arus modal asing cukup deras membanjiri Indonesia. Hal ini membuat transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus US$ 5,5 miliar. Kenaikan modal ini terjadi dalam bentuk investasi langsung, portofolio, maupun penarikan utang luar negeri swasta. Sayangnya, surplus transaksi modal tak mampu mengompensasi defisit neraca perdagangan.

Meski begitu, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan bakal menurun ke sekitar 2% dari PDB pada paruh kedua tahun ini. Sehingga, NPI secara keseluruhan akan kembali mencatat surplus. "Penurunan ekspor diperkirakan akan lebih kecil pada kuartal III sebelum kembali tumbuh positif pada kuartal IV-2012. Sementara pertumbuhan impor diperkirakan akan lebih rendah pada keseluruhan paruh kedua 2012," kata Dody.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, impor barang modal dan bahan baku penolong memang tidak bisa terhindarkan. Hanya saja, ia yakin nantinya barang modal ini pada waktunya bakal menghasilkan barang jadi.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga agar ekspor tidak terlalu jatuh. Caranya, dengan membuka pasar baru dan juga mengeluarkan kebijakan agar ekspor bisa lebih lancar. "Kita juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar investasi dilakukan dengan porsi untuk bisa melakukan ekspor. Sehingga neraca perdagangan kita bisa lebih terkendali," kata Agus Jumat (10/8).

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih memperkirakan defisit NPI pada kuartal II tahun ini bakal lebih besar ketimbang kuartal I 2012. Pasalnya, dari sisi transaksi berjalan, defisitnya bakal lebih besar akibat pelebaran defisit neraca perdagangan.

Lana memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II tahun ini bakal defisit lebih dari US$ 2,5 miliar, atau bahkan bakal menyentuh level US$ 3 miliar.


Reporter Herlina KD
Editor Djumyati Partawidjaja
Neraca Pembayaran Indonesia

Feedback   ↑ x