: WIB    --   
indikator  I  

Kenaikan tarif listrik ganggu konsumsi masyarakat

Kenaikan tarif listrik ganggu konsumsi masyarakat

JAKARTA. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, peningkatan keyakinan konsumen April 2017 dan tendensi konsumen di kuartal kedua 2017 tersebut sejalan dengan dekatnya puasa dan Lebaran.

Menurutnya, penurunan pada indeks lapangan pekerjaan pada survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI), bersifat temporer.

Lana mengatakan, meningkatnya keyakinan konsumen dan tendensi konsumen tersebut bisa mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal kedua tahun ini lebih tinggi dari kuartal pertama yang hanya tercatat 4,93% year on year (YoY).

"Kalau melihat tren, biasanya puncak konsumsi masyarakat di kuartal kedua ketika ada faktor musiman," kata Lana kepada KONTAN, (9/5).

Setelah itu lanjut Lana, besaran pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa kembali ke kuartal pertama dan baru akan meningkat lagi di kuartal keempat mendatang.

Meski demikian, ia melihat adanya risiko yang bisa menghambat konsumsi masyarakat, yaitu kelanjutan kenaikan tarif dasar listrik 900 volt ampere (VA). Belum lagi, Juli nanti ada penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan 1.300 VA yang bertepatan dengan pergantian tahun ajaran sekolah.

Menurutnya, jika kenaikan tarif listrik tersebut berdampak pada tergerusnya daya beli masyarakat maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga sepanjang tahun ini sulit mencapai 5% YoY. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tahun ini juga akan sulit melebihi angka 5% YoY.

"Kalau konsumsi rumah tangga tidak menembus 5% di kuartal kedua agak berat. Karena momentumnya di kuartal kedua. Konsumsi rumah tangga bisa ke 5% akan sangat membantu ekonomi secara keseluruhan tumbuh lebih dari 5%," tambahnya. 


Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Yudho Winarto

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x