: WIB    —   
indikator  I  

Indef: Investasi industri lifestyle harus ditambah

Indef: Investasi industri lifestyle harus ditambah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia kaya akan komoditas yang berhubungan dengan industri gaya hidup atawa lifestyle. Namun belum dikembangkan secara serius. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia harus mengambil peluang tersebut.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, industri lifestyle memang potensial. Baik jasa lifestyle atau pariwisata maupun komoditas lifestyle seperti kopi, pala, vanila, dan kakao.

Namun demikian, menurutnya dalam pengembangan keduanya ini dibutuhkan investasi yang lebih banyak. Menurutnya, memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah itu betul, tetapi butuh pengolahan lebih lanjut sehingga nilai investasi harus ditambah.

“Jika peningkatan kualitas pariwisata dan nilai tambah produk commodity lifestyle bisa dilakukan dalam waktu dekat sumbangan pariwisata terhadap PDB bisa mencapai 9% di 2019. Sesuai target pemerintah,” kata Bhima kepada Kontan.co.id, Kamis (12/10).

Menurut Bhima, pariwisata sendiri potensial tapi sejauh ini kenaikan jumlah wisatawan terutama asing tidak berbanding lurus terhadap kualitas belanja pariwisata. Rata-rata wisatawan asing di Indonesia masih di bawah satu minggu.

Paska bebas visa dan banjir turis dari China juga kualitas belanja turis justru menurun, “Banyak turis yang mencari hotel murah, makanan murah sehingga dorongan pertumbuhan ekonomi dari pariwisata masih terbatas,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurutnya, konsep pariwisata murah bagi turis mancanegara harus diubah. Pasalnya pemerintah perlu mengejar quality over quantity.

Sementara, untuk komoditas lifestyle yang potensinya juga besar, perlu ada pemberdayaan petani menjadi wirausahawan. Misalnya, kopi yang permintaan ekspornya naik cukup signifikan dan tidak terpengaruh pelemahan ekonomi.

“Dengan pasar yang besar petani kopi harus diberdayakan menjadi wirausahawan kopi sehingga produk kopi yang diekspor sudah menjadi bubuk kopi nilai tambahnya lebih tinggi,” jelasnya.


Reporter Ghina Ghaliya Quddus
Editor Yudho Winarto

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]