kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Habibie: Rebut kembali jam kerja


Jumat, 10 Agustus 2012 / 12:40 WIB
ILUSTRASI. Petugas kesehatan mendampingi pasien COVID-19 dengan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) yang tiba di Rumah Susun Nagrak, Cilincing. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Mantan Presiden RI BJ Habibie menyatakan, pentingnya menjadikan neraca jam kerja sebagai indikator makro-ekonomi seperti halnya neraca perdagangan dan neraca pembayaran.

"Sudah saatnya neraca jam kerja sebagai indikator makro-ekonomi di samping neraca perdagangan dan pembayaran, rebut kembali jam kerja yang saat ini dirampas asing dengan merampas nilai tambah produk yang seharusnya milik rakyat Indonesia," kata BJ Habibie di sela-sela Hari Teknologi Nasional (Harteknas) tingkat Jabar di Gedung Sate Kota Bandung, Jumat (10/8).

Baik pemerintah maupun legislatif, menurut Habibie, perlu lebih proaktif peduli dan bersungguh-sungguh dalam pemanfaatan produk dalam negeri dan perebutan jam kerja.

Ia mengkritisi pasar domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, dan lainnya diserahkan pada produk impor yang mengandung jutaan jam kerja untuk penelitian, pengembangan, dan produksi produk yang kita butuhkan.

"Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentif kepada siapa saja yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja, dan akhirnya lapangan kerja," katanya.

Menurut Habibie, kesejahteraan meningkat, golongan menengah meningkat, dan pertumbuhan meningkat pula, tetapi pemerataan belum berjalan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Hal itu, kata dia, hanya mungkin bila jam kerja yang terkandung dalam semua produk yang dibutuhkan itu secara nyata diberikan kepada masyarakat madani Indonesia.

Lebih lanjut, Habibie yang juga teknokrat kebanggaan Indonesia, mencontohkan salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, antara lain pengalihan kekayaan alam satu negara ke negara lain yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi kemudian menjual produk-produk ke negara asalnya. "Caranya sedemikian rupa sehingga rakyat harus 'membeli jam kerja' bangsa lain," kata Habibie. (Erlangga Djumena/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×