: WIB    --   
indikator  I  

Eksklusif, Jokowi: Kuncinya bukan di APBN

Eksklusif, Jokowi: Kuncinya bukan di APBN

KONTAN.CO.ID - Hampir tiga tahun Presiden Joko Widodo memegang kendali pemerintahan di Indonesia. Dalam kurun waktu itu, pembangunan infrastruktur jadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Setelah infrastruktur, kiat lanjutan apa Presiden mengejar kinerja ekonomi 2018 dan 2019? Berikut wawancara jurnalis KONTAN Ardian Taufik G, Titis Nurdiana, Uji Agung, Agus Triono dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/8).


KONTAN: Setelah tiga tahun pemerintahan, apa saja yang sudah dicapai, apa yang belum tercapai dan apa yang akan dilakukan?

Jokowi: Kalau melihat dari angka-angka laporan yang saya terima, kita harus optimis melihat ekonomi Indonesia. Melihat tax amnesty hasilnya besar. Indeks kemudahan berusaha kita juga meningkat. Kita juga dapat peringkat layak investasi baik dari Moody's, Fitch, S&P. Kalau lihat IHSG, peningkatannya juga baik. Di sisi gini rasio, di akhir 2014 masih 0,414 pada September 2016 sudah 0,394. Inflasi juga terkendali di angka 3%-an.

KONTAN: Kalau makronya bagus, tapi di mikro, banyak pengusaha mengeluh?
Jokowi: Makro itu berasal dari kumpulan mikro. Yang paling penting, kita harus tingkatkan yang sudah dicapai, yang belum baik diperbaiki. Misalnya aturan atau regulasi yang terlalu banyak yang menyebabkan birokrasi kita ruwet, membelenggu kita sendiri. Itu harus dipangkas. Ke depan, arahnya ke situ. Sekarang di BKPM, tiga jam keluar delapan izin, harusnya seperti itu. Nah, daerah harus diikuti terus agar melakukan hal sama. Mulai September ini, perizinan akan disederhanakan lagi. Targetnya awal 2018, kita punya gedung tersendiri untuk melayani seluruh perizinan investasi.

KONTAN: Bukannya sudah ada Pelayanan Tarpadu Satu Pintu (PTSP).

Jokowi: Nantinya single submission! Urusan izin apapun di situ. Arahnya daerah untuk perizinan juga di situ. Kita harus punya satu tempat khusus, meski sekarang di BKPM sudah. Sebab, di beberapa kementerian, misal di Kementerian Perhubungan izinnya banyak sekali, ESDM banyak sekali, Kehutanan juga banyak.

KONTAN: Selain aturan, apa yang belum tercapai?

Jokowi: Infrastruktur kita kemajuannya baik. Sekarang, kita siapkan tahapan kedua setelah infrastruktur, yaitu pembangunan sumber daya manusia. Mungkin tahun depan bisa mulai tapi belum bisa besar besaran. Jika dilihat, 66% sumber daya manusia kita lulusan SD, SMP.

KONTAN: Bagaimana dengan upaya menghidupkan industri manufaktur?

Jokowi: Ini pentingnya infrastruktur yang terhubung dengan kawasan ekonomi khusus. Kalau itu selesai mestinya kita bisa tarik investasi masuk, terutama investasi manufaktur. Di situlah kepentingan kita dalam rangka menyediakan lapangan kerja bagi rakyat. Saya yakin jika regulasi yang ruwet bisa dipangkas, perizinan cepat disiapkan, bisa mendorong investasi masuk ke industri manufaktur.

KONTAN: Bapak sangat optimistis di semester II tahun 2017. Tapi kalau melihat angka penerimaan negara semisal belum 50%?

Jokowi: Kuncinya bukan di APBN. APBN itu hanya menyumbang 30% dalam ekonomi. Sekitar 70% lebih yang mempengaruhi ekonomi ada di investasi dan ekspor. Pasar ekspor sekarang sulit sehingga yang berpeluang hanya satu, yaitu menggenjot investasi. Sekarang investor antre investasi di depan pintu kita. Tapi kita sendiri yang bermasalah. Ini yang akan kita babat habis. Enam atau delapan bulan ini, kita akan fokus ke situ.

KONTAN: Bagaimana dengan pengusaha kita?

Jokowi: September ini, saya mau roadshow ke pengusaha-pengusaha, bahkan sampai ke beberapa kota untuk menyampaikan angka-angka tadi. Saya ingin mencari tahu apa yang di wait and see. Makro sudah on track, apa lagi yang ditunggu.

KONTAN: Faktor yang jadi keluhan adalah daya beli masyarakat yang lemah?

Jokowi: Daya beli itu datang jika para pengusaha juga investasi. Upaya mendorong daya beli, tahun depan, program keluarga harapan (PKH) diperluas dari 6 juta menjadi 10 juta keluarga supaya daya beli menguat. Kemudian Kartu Indonesia Pintar juga sudah diberikan ke 19 juta siswa. Dana langsung ke masyarakat tapi tersistem lewat kartu. Dana Desa juga yang dulu Rp 20 triliun sekarang sudah Rp 60 triliun. Yang ditunggu, ya peran 70% itu, Jika selalu wait and see itu, akan kita dorong. Saya dorong agar BUMN dan swasta mengeluarkan uangnya untuk investasi.

KONTAN: Yang Bapak bayangkan di akhir periode, pencapaian seperti apa?

Jokowi: Belum membayangkan saya. Tapi ini akan kelihatan angka kalau infrastruktur sudah selesai. Akan mulai kelihatan kecepatan pengiriman barang dan jasa, mobilitas orang akan mulai kelihatan. Investor akan melihat, kesediaan infrastruktur telah. Ini kan dasar sekali. Benar memang ada yang sakit, ada yang pahit, saya tahu, tapi ini memang harus. Kalau saya hanya bertumpu pada konsolidasi ekonomi, stabilitas ekonomi, maka kinerja tidak dikejar. Saya berani ambil risiko itu.

 


Reporter Agus Triyono, Ardian Taufik Gesuri, Titis Nurdiana, Uji Agung Santosa
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]