KETAHANAN PRODUKSI AIR BERSIH
Air bersih di DKI sangat rentan
Oleh Petrus Dabu - Rabu, 07 September 2011 | 23:45 WIB

JAKARTA. PT Perusahaan Air Minum Jakarta Raya (PAM Jaya) menyatakan kondisi ketahanan air DKI Jakarta masih rentan. Karena pasokan air di Ibu Kota negara ini lebih banyak berasal dari luar Jakarta.
Direktur Utama PAM Jaya Maurits Napitupulu mengatakan dari 18 kubik per detik kebutuhan air di DKI Jakarta setiap harinya hanya 2% atau 0,4 kubik per detik air baku berasal dari DKI Jakarta sendiri.
Selebihnya, yaitu 98% air baku dan air bersih di Jakarta berasal dari luar Jakarta. Dengan rincian 83% berasal dari Sungai Citarum berupa air baku yang dialirkan melalui Kanal Tarum Barat. Air dari Citarum ini masih berupa air baku yang kemudian diolah menjadi air bersih di Instalasi Pengolahan Air Buaran I dan II, Pejompongan I dan II serta di Instalasi Pulogadung.
Sebanyak 15% lainnya merupakan air bersih dari Tangerang. "Ini kondisi ketahanan air di DKI Jakarta, sangat rawan sekali," ujar Maurits kepada wartawan di Jakarta Rabu (7/9).
Kondisi rawan ini bisa dilihat saat terjadi jebolnya pintu air di Kalimalang pada Rabu (31/8) lalu. PAM Jaya beserta dua operator air bersih di DKI Jakarta, yaitu PT PAM Lyonnaise Jaya dan PT Aetra Air Jakarta seperti tidak berdaya menghadapi kondisi tersebut. Karena, kejadian tersebut berada di wilayah hulu yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Tanggung jawab PAM Jaya dan operator hanya di sektor hilir yaitu berhubungan dengan pelanggan.
Maurits menyatakan PAM Jaya berjanji untuk melakukan koordinasi yang intensif dengan pihak pengelola Daerah Aliran Sungai Citarum yaitu Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) dan juga dengan pengelola Kanal Tarum Barat yaitu Perum Jasa Tirta II (PJT II) untuk mencegah terjadinya kejadian yang sama pada masa yang akan datang. “Kanal Tarum Barat merupakan urat nadi kebutuhan air baku di DKI,”ujarnya.
Maurits memaparkan saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah Daerah DKI Jakarta sedang mengkaji penambahan kapasitas Kanal Tarum Barat sebesar 5-10 kubik per detik. Rencananya, Pemda DKI Jakarta akan membangun satu lagi instalasi pengolahan air di Buaran yang akan disebut Buaran III. Maurits mengatakan Pemda sudah menyiapkan lahan untuk instalasi Buaran III ini. “Tinggal sekarang pasokan air bakunya,” ujarnya.
Kemungkinan lainnya kata dia instalasi akan dibangun di Curug, Cisarua. Nanti, DKI akan membeli langsung dalam bentuk air bersih. Model ini kata dia seperti pasokan air bersih dari Tangerang. "Kita mengharapkan instalasinya dibuat di Jakarta. Karena lahannya sudah tersedia tentunya biaya investasinya untuk mewujudkan ini jauh lebih murah dibandingkan kita membangun instalasi baru di daerah Curug,” tandasnya.
Namun, lanjutnya rencananya tersebut masih mengandalkan pasokan air dari luar DKI. Karena itu menurutnya belum menjamin ketahanan air di Ibu Kota. Karena itu, pemda DKI kata dia juga sedang berencana merencanakan proyek ultra filtrasi air sungai di Jakarta agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat.
“Air-air dari kali Cengkareng, Banjir Kanal Barat, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, kita ingin menggunakan airnya walaupun dari segi persyaratan air baku untuk air minum itu sudah tidak memenuhi syarat. Tapi teknologi ultra filtrasi itu bisa menyelesaikan persoalan seperti itu,” ujarnya.
Kajian teknis dan studi kelayakan proyek ini kata dia sudah dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung. Analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal juga sudah dilakukan oleh Universitas Indonesia.
PAM Jaya kata dia saat ini sedang menunggu surat izin penggunaan air dari Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. “Kalau sipa (surat izin penggunaan air) sudah keluar kita langsung melakukan pelelangan ultra filtrasi ini, tahap pertama di banjir kanal barat, tahap kedua di Cengkareng Drain dan tahap ketiga di Pesanggrahan dan Kali Krukut,” ujarnya.
Dia memperkirakan proyek ultra filtrasi ini akan beroperasi semuanya pada tahun 2013. Dari ultra filtrasi ini nanti bisa menyumbang sekitar 4 kubik per detik air. Sedangkan, tambahan kapasitas air dari Kanal Tarum Barat diperkirakan akan menambah kapasitas air di DKI sebesar 5 kubik per detik.
- Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
- Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
- Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
- KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.